Thursday, November 17, 2016

#PersibHariIni: 18 November 1999, Hujan Tunda Duel Indocement Kontra Persib di Cirebon

PERTANDINGAN Persib Bandung kontra Indocement pada pertandingan lanjutan Liga Indonesia (LI) VI/1999-2000 terpaksa ditunda akibat hujan deras yang mengguyur Stadion Bima Cirebon. Hujan deras yang disertai petir menjadikan lapangan tergenang air dan wasit memutuskan menghentikan pertandingan. Pada saat dihentikan, Indocement dan Persib masih bermain imbang tanpa gol. Berdasarkan regulasi dan kesepakatan kedua tim, pertandingan tunda dilanjutkan pada keesokan harinya di tempat yang sama.

Sumber : persib[dot]galamedianews[dot]com

Faktor Cuaca, Kick Off Persib Kontra Semen Padang Dimajukan Pukul 15.30 WIB

KICK off laga Persib Bandung kontra Semen Padang yang akan digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Kab.Bandung, Sabtu (19/11/2016), dimajukan lebih awal. Sebelumnya, laga ini akan dihelat pukul 18.30 WIB.
Namun dengan mempertimbangkan faktor cuaca yakni intensita scurah hujan yang tinggi, maka pertandingan digelar mulai pukul 15.30 WIB.
General Coordinator Panpel Persib, Budhi Bram Rachman membenarkan, faktor cuaca Kota Bandung yang kerap di guyur hujan besar di malam hari yang menjadi salah satu alasan pertandingan digelar lebih awal.
"Iya, kick off pertandingan berubah jadi lebih awal yaitu 15.30 WIB, yang tadinya pukul 18.30 WIB. Alasanya, karena pertimbangan kondisi alam. Untuk pertandingan ini, panpel mencetak 22 ribu lembar tiket," kata Budi Bram, Kamis (17/11/2016).
Sebelumnya, saat Maung Bandung menjamu Persipura Jayapura di tempat sama, pekan lalu, pertandingan terpaksa molor selama 30 menit karena hujan besar yang mengguyung Kabupaten Bandung selama satu jam.
Beruntung, kata Bram, lapangan Stadion Si Jalak Harupat memiliki drainase yang cukup bagus. Sehingga dalam 30 menit genangan air sudah hilang. Sehingga pertandingan bisa dilangsungkan.
"Dimajukannya kick off bukan karena drainase lapangan. Karena genangan air di lapangan pada pertandingan kemarin bisa cepat surut. Tapi lebih pada kondisi cuaca saja," bebernya.
Editor: Andri Ridwan Fauzi

Duel Taktik Ala Italia dan Jerman Bakal Warnai Laga Persib Vs Semen Padang

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Pekan ke-29 Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 yang mempertemukan Persib Bandung dan Semen Padang, Sabtu (19/11/20w6) nanti akan menjadi duel taktik antara dua pelatih, Djadjang Nurdjaman dan Nil Maziar.
Strategi Djadjang dengan ciri khas permainan bola-bola pendek ala Gli Azzuri, Italia, akan berhadapan strategi racikan Nil yang kental dengan sepakbola ala Negeri Panzer yang terkenal dengan agresivitas tinggi sampai peluit panjang berbunyi. 
Genderang perang pun ditabuh oleh pelatih Maung Bandung.
"Kita sudah tahu betul Nil, kita juga sudah mengantisipasonya, kami akan peragakan itu pada pertandingan nanti," kata Djadjang di Lapangan Progresif, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Kamis (17/11/2016).
Sedianya, dari empat pertemuan terakhir kedua pelatih, Nil masih mendominasi catatan statistik. Pada musim 2014, Persib harus mengakui keunggulan Semen Padang, baik pada laga kandang maupun tandang.
Namun, pada laga pembuka Persib dalam pentas Liga Indonesia 2015, Persib berhasil menang tipis 1-0 di Stadion Si Jalak Harupat, 4 April 2015 lalu. Namun, hasil tersebut tak menerus pada pertemuan kedua tim pada pekan ke-12 ISC, pasukan besutan Nil membuat Hariono dan kawan-kawan menelan kekalahan 0-4 di Stadion H Agus Salim, Kota Bandung.
"Kita akan lakukan variasi, dan mudah-mudahan jalan dalam pertandingan nanti," kata Djadjang.
Dalam melangsungkan misinya itu, Djadjang kini lebih leluasa pasalnya semua pasukannya telah siap 100 persen. "Kita sudah garap semua secara fisik, taktik, dan mental, siap tempur seratus persen," ujarnya. (Dam)

Natshir Mulai Antisipasi Jika Laga di Tengah Hujan

Akhir-akhir ini cuaca ekstrim melanda sebagian daerah di Jawa Barat khususnya di Kota Bandung. Kondisi tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap performa pemain sepakbola saat berlaga.

Bermain di bawah guyuran hujan, diakui kiper PERSIB, Muhammad Natshir Fadhil Mahbuby, membuat dirinya sulit memprediksi arah pantulan bola. Langkahnya pun tidak akan segesit saat kondisi lapangan kering.

“Kalau hujan ya banyak pengaruhnya. Selain bola licin, pengaruh juga ke pantulan bola. Dan yang pasti berpengaruh juga kepada fisik dan taktik,” kata Kiper yang akrab disapa Deden itu.

"Kondisi ini yang harus kita antisipasi. Karena bisa jadi pertandingan nanti lawan Semen Padang juga kondisinya hujan," sambungnya.

Untuk mengantisipasi hal tiu, Deden pun sudah menyiapkan teknik tersendiri jika mengharuskan dirinya berlaga di bawah guyuran hujan. Namun yang terpenting, lanjut Deden, yaitu menjaga kondisi supaya penampilannya tetap maksimal.

“Paling penting sih jaga kondisi. Jaga makanan, ada tambahan multivitamin. Kalau teknik di lapangan saat hujan beda triknya, ada tekniknya juga supaya kita tetap bisa maksimal,” tambahnya.

Deden menambahkan, pada laga pekan ke-29 TSC 2016 Presented by Indosat Ooredoo, Sabtu 19 November nanti ia akan bermain maksimal. Terlebih akan main di kandang sendiri. “Harus menang. Semua pemain pasti berusaha maksimal untuk raih poin penuh,” tuturnya.***

sumber : persib[dot]co[dot]id

Djadjang Ogah Terkecoh Absennya Tiga Pemain Lawan

Pelatih PERSIB, Djadjang Nurdjaman menilai Semen Padang tetap tim kuat meski tanpa tiga pilar utamanya. Karenanya, ia akan tetap menyiagakan timnya selama pertandingan berlangsung.

Ketiga pemain yang absen tersebut adalah Ricko Simanjuntak dan Lee Gil-Hoon karena akumulasi kartu, serta cederanya Hengki Ardiles, tak akan membuat kekuatan lawan berkurang.

Menurut Djadjang, selama menjadi pelatih, kondisi hilangnya pemain inti mayoritas tak membuat satu tim melemah. Pemain pengganti yang dipercaya tampil menghadapi PERSIB, selalu menunjukan penampilan maksimal dan merepotkan timnya.

"Saya sudah sangat berpengalaman dengan timpangnya kondisi tim lawan karena cedera atau akumulasi. Tapi, mereka akan tetap tampil baik dan menyulitkan," kata Djadjang usai melatih, Kamis (17/11/2016).

Dia mencontohkan, saat menghadapi Persija Jakarta, pekan lalu. Mereka tidak diperkuat oleh lima pemain inti, namun saat bertanding, para pemain pengganti masih bisa menunjukan kemampuannya.

"Kemarin lawan Persija atau Persipura, beberapa pemain absen, tapi tetap mereka sulit kita kalahkan. Jadi kita tak akan terkecoh oleh itu, kita tetap waspada," pungkasnya. ***

sumber : persib[dot]co[dot]id

Program Fisik Disiapkan untuk Mereka yang Tampil di Popwilnas

Lima penggawa PERSIB U-17 yang dipanggil Pekan Olahraga Pelajar Wilayah Nasional (Popwilnas) akan digembleng secara khusus oleh pelatih fisik, Gilang Fauzi. Tak lain agar peak performance Maung Ngora merata.

Kelima atlet yang mewakili Jawa Barat untuk Popwilnas di Jakarta, 13-19 November, itu adalah Asep Dani, Ilham Qolba, Ahmad Roby, Taufik Isnan dan Aqil Savik. Meraka akan tetap bergabung dengan tim Maung Ngora dan menyusul langsung dari Jakarta ke Semarang untuk memperkuat Putaran Nasional Piala Soeratin U-17 di Semarang, akhir pekan ini.

Menurut Gilang, dengan tampilnya lima pemain itu di Popwilnas tentu akan berpengaruh terhadap peak performance anak asuhnya itu. Namun ia tak khawatir lantaran dirinya sudah memiliki formula tersendiri untuk memacu penampilannya supaya tetap tampil baik di Piala Soeratin U-17 Nasional.

“Mereka tetap ikut di Putaran Nasional Soeratin. Untuk kondisinya memang ada pengaruh. Tapi nanti kita siapkan program khusus buat mereka. Tidak disamakan dengan pemain yang lain. Kita berikan program latihan terpisah,” kata Gilang.

Di Semarang nanti, Tim Maung Ngora akan berada di grup B bersama Sulawesi Tenggara Selection dan Persbit Bitung. Putaran Nasional itu akan mulai berlangsung pada 19 November 2016.***

sumber : persib[dot]co[dot]id

Sektor Sayap Jadi Perhatian Djadjang

Pelatih PERSIB, Djadjang Nurdjaman terus berbenah untuk menjamu Semen Padang di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu 19 November mendatang. Salah satunya menggenjot sektor pertahanan Maung Bandung, khususnya sektor sayap.

Menurut Djadjang, sang lawan memiliki pemain cepat di sektor sayap seperti Muhammad Nur Iskandar atau Irsyad Maulana. "Pembenahan dilakukan apalagi sektor sayap mereka cukup berbahaya ada Irsyad dan lainnya," terangnya.

"Saya pikir mereka cukup membahayakan selalu dan kita belajar dari itu. Kelemahan kita itu masih sering terjadi dan kita akan benahi dalam latihan," kata Djadjang, Kamis (16/11/2016).

Namun, secara umum semua lini terus dibenahi oleh Djadjang. Apalagi, Pelatih Semen Padang, Nil Maizar sebagai sosok yang memahami bagaimana menghadapi skema-skema menyerang dan bertahan Maung Bandung.

"Untuk sekarang waktu cukup bagus satu minggu tidak ke luar kota banyak waktu mempersiapkan diri. Semoga kita lebih siap," ungkapnya. ***

sumber : persib[dot]co[dot]id

Masuk PERSIB Impian Fery Sejak Kecil

Diakui atau tidak, nama besar PERSIB memang selalu menjadi daya tarik bagi para pemain sepakbola untuk bisa menjadi bagian di dalamnya. Hal itu juga yang dirasakan Fery Andrianto.

Striker anyar PERSIB U-17 itu mengaku bisa menjadi bagian dari Maung Bandung adalah impiannya sejak kecil. Dari pertamakali terjun mengolah si kulit bundar lantaran tekad yang kuat untuk bisa bergabung dengan tim kebanggan bobotoh itu.

"Dari Kabomania saya ditawari masuk PERSIB sangat bersyukur sekali. Bangga banget karena dari kecil bermain bola ya saya punya impian suatu hari bisa masuk PERSIB. Dan Alhamdulillah sekarang saya bisa berada di sini dengan PERSIB," kata Fery di Mess PERSIB, Jl. Ahmad Yani Bandung, Kamis pagi.

Ia berharap tidak hanya karena ada Putaran Nasional Piala Soeratin U-17 saja ia bisa memperkuat PERSIB. Namun ke depannya juga ia tetap bisa bergabung dengan Maung Bandung, dan bisa berkarier di sana.

"Harapan saya bisa bawa PERSIB U-17 ini bersinar di tingkat nasional. Karier saya di sini juga panjang. Karena sekali lagi ini impian saya," tegasnya.

Meski butuh proses untuk bisa menyatukan kekuatan dengan tim, Fery menuturkan jika kini dirinya mulai bisa beradaptasi dan membaca karakter setiap pemain yang ada di PERSIB U-17.

"Sedang berusaha untuk bisa adaptasi, bisa nyetel dengan yang lain. Turun di lapangan baru satu kali pas uji tanding sama Bandung Barat United. Itu tidak cukup. Semuanya butuh proses," ujarnya.

Meski begitu pemain kelahiran 13 Juli 1999 itu dinilai tampil bagus saat uji tanding beberapa waktu lalu. Kerjasama dan komunikasi dengan pemain lain sudah mulai jalan dan alhasil satu gol bersarang di gawang lawan melalui tendangannya. ***

sumber : persib[dot]co[dot]id

Kim Akan Matikan Nur Iskandar

Gelandang PERSIB, Kim Jeffrey Kurniawan menyatakan, dia bersama teman-temannya bisa menghentikan pergerakan Muhmmad Nur Iskandar ketika menghadapi Semen Padang pada laga pekan ke-29 TSC 2016 Presented by Indosat Ooredoo, Sabtu 19 November mendatang.

Nur Iskandar tampil cukup gemilang selama perhelatan turnamen ini. Pemain asal Jayapura, Papua ini sebagai pemberi assist tersubur di Semen Padang, sekaligus yang membobol gawang Maung Bandung pada putaran pertama lalu.

"Nur teman saya, menghadapi dia seperti lawan pemain lainnya. Dia datang ke saya akan saya lawan, tidak akan mungkin saya takut dia, kalau dia datang saya berusaha untuk tidak dilewati dia. Tidak kasih umpan, itu saja mudah-mudahan saya bisa menjalani tugas itu dengan baik," kata pemain berdarah Jerman ini.

Sebagai pemain yang sudah buat sembilan assist dan tiga gol untuk Kabau Sirah, Kim menilai Nur merupakan pemain bagus yang harus diwaspadai, meskipun tak akan ada persiapan khusus untuk hadapi Nur. Saat lawannya itu datang ke daerah pertahanan, Kim berjanji akan mematikannya supaya tidak mengancam gawangnya.

"Dia pemain cepat, pintar membaca situasi, dia sering lolos sendiri di depan gawang, umpan-umpannya juga bagus. Tapi, tidak ada persiapan khusus meski setiap pemain berbeda-beda. Kalau dia di depan saya, saya akan hadapi, saya kasih 100 persen untuk tidak bisa lewat, siapapun itu," tegas pemain bernomor punggung 23 tersebut. ***

sumber : persib[dot]co[dot]id

Febri dan Ritualnya Sebelum Laga

Pemain muda PERSIB, Febri Hariyadi memiliki ritual khusus sebelum menjalani pertandingan maupun saat akan latihan. Pemain jebolan Diklat PERSIB itu selalu menyempatkan untuk meminta doa dan keselamatan dari orang tuanya.

Bahkan, saat pertandingan di luar Kota Bandung, dia akan menyempatkan menelpon ibu dan bapaknya untuk meminta restu tersebut. Hal itu pun selalu dia lakukan demi menciptakan hasil yang maksimal.

"Sebenarnya bukan ritual sih, biasanya sebelum bertanding atau mau latihan pamitan dan meminta doa untuk kelancaran dan keselamatan," kata pria yang karib disapa Bow ini.

Itu selalu dilakukannya, karena buat Bow tanpa doa orang tuanya sebelum bertanding, terasa ada yang kurang atau mengganjal hatinya. Dia yakin dan percaya, doa orang tuanya juga yang membuatnya seperti saat ini.

"Bisa seperti sekarang juga karena doa dari ibu dan bapak. Rasanya tanpa doa orang tua, tidak bisa berbuat banyak," ungkapnya.

Dia pun berjanji akan bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk bisa selalu dipercaya tampil bersama Maung Bandung. Pemain bernomor punggung 19 ini ingin membalas doa-doa dan kebaikan orang tuanya dengan berprestasi bersama tim kebanggaannya sejak kecil.

"Selain saya juga berdoa dan bekerja keras di lapangan. Saya ingin bahagiakan orang tua dengan prestasi bersama tim ini, tim yang diimpikan sejak kecil," ucapnya. ***

sumber : persib[dot]co[dot]id

Wednesday, November 16, 2016

Natshir Tak Hanya Fokus Pada Marcel Seorang

Muhammad Natshir akan mendapat ujian sesungguhnya pada pekan ke-29 TSC 2016 Presented by Indosat Ooredoo, Sabtu 19 November nanti. Mesin gol Semen Padang, Marcel Silva Sacramento bisa jadi momok bagi kiper PERSIB ini.

Marcel merupakan sosok pemain tersubur Semen Padang saat ini. Dari 25 laga yang dilakoninya, pemain asal Brazil ini telah mengumpulkan 17 gol dan empat assist. Catatan golnya hanya selisih satu dari Striker Sriwijaya FC, Alberto Goncavles dengan 18 gol.

Saat melawat ke Padang pada putaran pertama lalu, pemain ini pula yang mengoyak gawang I Made Wirawan. Dia turut menyumbangkan satu gol untuk kemenangan 4-0 Semen Padang atas PERSIB.

Meskipun begitu, Natshir tidak mau menjadikan itu beban. Menurutnya, semua pemain punya potensi mencetak gol dan membahayakan gawangnya, termasuk Marcel.

"Semuanya harus diwaspadai, baik di depan, tengah, belakang semuanya berbahaya, mereka tim yang bagus, kita harus waspada dan kerja keras," kata pria yang karib disapa Deden ini.

Tekadnya saat bertanding di Stadion Si Jalak Harupat, akhir pekan ini adalah menang. Tak ada target yang mengharuskannya celansheet pada pertandingan homenya itu. Dia berjanji akan kerja keras, dan cleansheet diharapkan menjadi bonus usaha timnya.

"Kita konsentrasi ke permainan untuk meraih tiga poin. Yang jelas kita harus kerja keras, cleansheet jadi bonus saja," ucap Deden. ***

Sumber : persib[dot]co[dot[id]

Sejarah PERSIB 1995-2009

Setelah meraih juara Liga Indonesia I 1994-1995, prestasi Persib mulai menurun. Akan tetapi, dalam kompetisi internasional prestasinya cukup mengesankan karena sempat berlaga sampai perempat final Piala Champion Asia. Namun di tanah air Persib harus merelakan trofi Piala Liga Indonesia jatuh ke tangan saudara se-kota Tim Mastrans Bandung Raya yang akhirnya menjadi juara Liga Indonesia II.

Ternyata perjalanan Persib dalam mengarungi Liga Indonesia tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Meski perombakan di tubuh Persib kerap terjadi, belum juga menuai hasil maksimal, bahkan Persib sempat terancam terdepak dari kompetisi Liga Indonesia karena kerap di posisi papan bawah. Pada Liga Indonesia VII/2001 diarsiteki pelatih Indra Thohir dan Deny Syamsudin, Persib bisa lolos ke babak “8 Besar” di Medan, tetapi akhirnya gagal ke semifinal. Pergantian pelatih pun dilakukan termasuk dengan mendatangkan dari Polandia, Marek Andrejz Sledzianowski pada Liga Indonesia IX/2003. Namun, Marek Sledzianowski tidak seberuntung seniornya, Marek Janota. Sledzianowski diganti di tengah jalan karena Persib terseok-seok di papan bawah. Untuk menghindari jurang degradasi, pengurus Persib mendatangkan pelatih asing asal Cile, Juan Antonio Paez. Upaya ini berhasil dan Paez dipertahankan hingga Liga Indonesia X/2004.

Pada Liga Indonesia XI/2005, Indra Thohir kembali dipanggil. Namun, Persib harus puas di peringkat lima. Kompetisi berikutnya, Risnandar Soendoro dipercaya menjadi pelatih. Namun, dia hanya bertahan hingga dua pertandingan awal kandang setelah kalah dari PSIS dan Persiap di Stadion Siliwangi Bandung dan posisinya diganti Arcan Iurie Anatolievici. Pelatih asal Moldova itu kembali dipertahankan untuk menukangi Persib pada Liga Indonesia XIII 2007. Saat itu, Persib sudah diprediksi bakal meraih gelar juara karena pada paruh musim tampil sebagai pemuncak klasemen Wilayah Barat dan memenangkan duel dengan PSM sebagai pemuncak klasemen Wilayah Timur.

Akan tetapi, pada putaran kedua, Persib terpeleset dan prestasinya menurun sehingga menempati peringkat kelima dan gagal lolos ke babak “8 Besar”. Pada Kompetisi Liga Super Indonesia I/2008-2009 untuk kali pertama Persib diracik pelatih dari luar Bandung. Jaya Hartono (Medan), yang membawa Persik Kediri menggondol Piala LI IX/2003 dipanggil untuk meracik Persib. Sayangnya, Persib harus puas menempati peringkat tiga dalam kompetisi yang menggunakan format satu wilayah itu. Pada Liga Super Indonesia II/2009-2010, Persib yang masih ditangani Jaya Hartono kemudian diganti asistennya Robby Darwis pada putaran kedua kompetisi hanya menempati peringkat keempat klasemen akhir

Sejarah PERSIB 1991-1994

Pada Kompetisi 1991-1992, Persib gagal mempertahankan gelar setelah kalah 1-2 dari PSM di semifinal, dan 1-2 dari Persebaya pada perebutan tempat ketiga dan keempat. Pada tahun 1993 Wahyu Hamijaya dipilih menjadi ketua umum Persib menggantikan Ateng Wahyudi. Pada kompetisi penutup Perserikatan 1993-1994 Persib meraih gelar juara setelah di final mengalahkan PSM 2-0 melalui gol Yudi Guntara dan Sutiono Lamso. Persib pun berhak membawa pulang Piala Presiden untuk selamanya karena kompetisi berikutnya berubah nama menjadi Liga Indonesia, yang pesertanya dari Galatama dan Perserikatan.

Saat merebut gelar juara Kompetisi Perserikatan terakhir, trio pelatih yang menangani Persib adalah Indra Thohir, Djadjang Nurdjaman, dan Emen “Guru” Suwarman. Materi pemainnya, yakni Aris Rinaldi (kiper), Robby Darwis, Roy Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yusuf Bachtiar, Asep Kustiana, Sutiono Lamso, Kekey Zakaria, Yudi Guntara.

Persib kembali mencatatkan namanya dalam sejarah kompetisi Liga Indonesia. Persib berhasil mencapai final dan menggengam trofi juara dengan menaklukkan Petrokimia Putra dihadapan lebih kurang 80.000 penonton di partai final dengan skor 1-0 melalui gol Sutiono Lamso pada menit ke-76. Sorai-sorai pun bergemuruh di Stadion Utama Senayan Jakarta. Saat itu, Persib ditangani trio pelatih Indra Thohir, Djadjang Nurdjaman, Emen “Guru” Suwarman. Persib menggunakan formasi 3-5-2 dengan materi pemain adalah Anwar Sanusi (kiper), Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Mulyana (belakang). Dede Iskandar (kanan), Nandang Kurnaedi (kiri), Asep “Munir” Kustiana, Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara/Asep Sumantri (gelandang), Kekey Zakaria, Sutiono Lamso (depan).

Sumber: Lintas Sejarah Persib, Risnandar Soendoro, persib[dot]co[dot[id]

Sejarah PERSIB 1986-1990

Pada tahun 1985 Ateng Wahyudi menjadi ketua umum Persib menggantikan Solihin GP. Harapan yang dinantikan meraih juara kembali akhirnya terwujud. Pada Kompetisi Perserikatan 1986, Persib yang ditangani pelatih Nandar Iskandar meraih juara setelah di final mengalahkan Perseman Manokwari 1-0 melalui gol tunggal Djadjang Nurdjaman, di Stadion Senayan. Materi pemain Persib saat itu masih hasil polesan Marek Janota seperti Sobur, Boyke Adam (kiper), Robby Darwis, Adjat Sudrajat, Sukowiyono, Yana Rodiana, Adeng Hudaya, Sarjono, Iwan Sunarya, Sidik Djafar, dll.

Prestasi Persib masih tergolong stabil. Meski gelar itu lepas ke tangan PSIS pada Kompetisi 1987 dan Persebaya pada 1988, Persib masih berlaga di Senayan. Persib kembali meraih gelar juara pada Kompetisi 1990 setelah mengalahkan Persebaya 2-0 melalui gol bunuh diri Subangkit, dan Dede Rosadi. Saat itu, Persib yang ditangani pelatih Ade Dana dengan asisten Dede Rusli dan Indra Thohir diperkuat: Samai Setiadi (kiper), Robby Darwis, Adeng Hudaya, Ade Mulyono Asep Sumantri, Nyangnyang/Dede Rosadi, Yusuf Bachtiar, Sutiono Lamso, Adjat Sudrajat, Dede Iskandar, Djadjang Nurdjaman.

Sumber: Lintas Sejarah Persib, Risnandar Soendoro, persib[dot]co[dot[id]

Sejarah PERSIB 1970-1985

Pada tahun 70-an, Persib mengalami masa sulit dan miskin gelar. Namun, Max Timisela, yang menempati posisi gelandang menjadi langganan tim nasional. Puncaknya pada Kompetisi Perserikatan 1978-1979, Persib terdegradasi ke Divisi I.

Kondisi itu membuat para pembina Persib berpikir keras untuk melakukan revolusi pembinaan. Dipersiapkanlah tim junior yang ditangani pelatih Marek Janota (Polandia). Kemudian, tim senior diarsiteki Risnandar Soendoro. Gabungan pemain junior dan senior ini membuahkan hasil karena Persib berhasil promosi ke Divisi Utama dengan materi pemain seperti Sobur (kiper), Giantoro, Kosasih B, Adeng Hudaya, Encas Tonif, dll.

Hasil polesan Marek ini lahirlah bintang-bintang Persib seperti Robby Darwis, Adeng Hudaya, Adjat Sudrajat, Suryamin, Dede Iskandar, Boyke Adam, Sobur, Sukowiyono, Iwan Sunarya, dll. Hasil binaan Marek ini membawa Persib lolos ke final bertemu PSMS pada Kompetisi Perserikatan 1982-1983 dan 1984-1985. Dua kali Persib harus puas sebagai runner up setelah kalah adu penalti. Pada final 1984-1985 mencatat rekor penonton karena membeludak hingga pinggir lapangan. Dari kapasitas 100.000 tempat duduk di Stadion Senayan, jumlah penonton yang hadir mencapai 120.000 orang.

Sumber: Lintas Sejarah Persib, Risnandar Soendoro, persib[dot]co[dot[id]

Sejarah PERSIB 1941-1969

Setelah Indonesia merdeka, pada 1950 digelar Kongres PSSI di Semarang dan Kompetisi Perserikatan. Persib yang pada saat itu dihuni oleh Aang Witarsa, Amung, Andaratna, Ganda, Freddy Timisela, Sundawa, Toha, Leepel, Smith, Jahja, dan Wagiman hanya mampu menjadi runner-up setelah kalah bersaing dengan Persebaya Persebaya.

Pada tahun 50-an Aang Witarsa dan Anas menjadi pemain asal Persib pertama yang ditarik bergabung dengan tim nasional Indonesia untuk bermain di pentas Asian Games 1950.

Prestasi Persib kembali meningkat pada 1955-1957. Munculnya nama-nama seperti Aang Witarsa dan Ade Dana yang menjadi wakil dari Persib di tim nasional untuk berlaga di Olimpiade Melbourne 1956. Pada ajang itu, tim nasional Indonesia berhasil menahan imbang Uni Sovyet sehingga memaksa diadakan pertandingan ulang yang berujung kekalahan telak untuk Indonesia dengan skor 4-0.

Persib makin disegani. Pada Kompetisi 1961 tim kebanggaan “Kota Kembang” itu meraih juara untuk kedua kalinya setelah mengalahkan PSM Ujungpandang. Materi pemain Persib saat itu adalah Simon Hehanusa, Hermanus, Juju (kiper), Ishak Udin, Iljas Hadade, Rukma, Fatah Hidayat, Sunarto, Thio Him Tjhaiang, Ade Dana, Hengki Timisela, Wowo Sunaryo, Nazar, Omo Suratmo, Pietje Timisela, Suhendar, dll. Karena prestasinya itu, Persib ditunjuk mewakili PSSI di ajang kejuaraan sepakbola “Piala Aga Khan” di Pakistan pada 1962. Bintang Persib saat itu juga telah lahir Emen “Guru” Suwarman.

Setelah itu, prestasi Persib mengalami pasang surut. Prestasi terbaik Persib di Kompetisi perserikatan meraih posisi runner up pada 1966 setelah kalah dari PSM di Jakarta.

Sumber: Lintas Sejarah Persib, Risnandar Soendoro, persib[dot]co[dot[id]

Sejarah PERSIB 1933-1940


Persib 1933 © persib.co.id
Sebelum lahir nama Persib, pada tahun 1923 di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB). BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakn i R. Atot.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain bernama Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada 14 Maret 1933 kedua klub itu sepakat melebur dan lahirlah perkumpulan baru yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai ketua umum. Klub- klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi. Setelah tampil tiga kali sebagai runner up pada Kompetisi Perserikatan 1933 (Surabaya), 1934 (Bandung), dan 1936 (Solo), Persib mengawali juara pada Kompetisi 1939 di Solo.

Sumber: Lintas Sejarah Persib, Risnandar Soendoro

Labels

Blog Archive